GIANYAR – ortibali.id, Setelah 14 tahun berada di bawah kepemimpinan yang sama, Desa Suwat, Kecamatan Gianyar, kini memasuki babak baru dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkel) Serentak 2026. Di tengah momentum tersebut, I Putu Darmendra alias Nonok (38) tampil sebagai penantang petahana dengan membawa gagasan perubahan melalui gerakan LAGAS (Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng).
Mengusung tagline “Sudahi yang Dulu, Saatnya yang Baru”, Nonok menawarkan konsep kepemimpinan desa yang lebih terbuka, aktif turun ke masyarakat, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi warga untuk terlibat dalam pembangunan.
Figur muda yang memiliki latar belakang sebagai jurnalis ini menegaskan, tagline yang dibawanya bukan sekadar slogan dalam kontestasi politik desa. Menurutnya, kalimat tersebut merupakan ajakan untuk memberikan kesempatan kepada energi dan gagasan baru dalam mengelola pemerintahan serta pembangunan Desa Suwat.
“Empat belas tahun adalah waktu yang cukup dan bagaimanapun, kekuasaan harus dibatasi. Kesempatan mengabdi juga harus diberikan kepada yang lain. Desa membutuhkan penyegaran agar tidak berjalan di tempat,” ujar Nonok kepada media saat menghadiri Deklarasi Damai Pilkel Serentak 2026 di Balai Budaya Gianyar, Senin (31/8).
Bukan Menghapus, tetapi Melanjutkan yang Baik
Nonok menyadari bahwa perubahan tidak berarti menghapus seluruh kebijakan maupun pembangunan yang telah dilakukan pemerintahan sebelumnya.
Ia mengatakan, hal-hal yang sudah baik harus tetap dilanjutkan. Sementara program yang belum maksimal perlu dievaluasi dan diperbaiki. Di sisi lain, berbagai gagasan baru yang belum pernah diterapkan harus berani dicoba apabila dinilai mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, tantangan desa ke depan semakin kompleks sehingga diperlukan pola kepemimpinan yang mampu mengikuti perubahan zaman. Pemerintahan desa harus terbuka terhadap gagasan baru, cepat merespons persoalan warga, dan tidak hanya bekerja dari balik meja.
Nonok menawarkan karakter kepemimpinan muda, progresif, adaptif, dan kolaboratif.
Baginya, kepemimpinan muda bukan semata-mata persoalan usia. Pemimpin progresif harus berani memperbaiki pola kerja yang sudah tidak efektif. Sementara sikap adaptif diperlukan agar pemerintahan desa mampu mengikuti perkembangan teknologi dan tuntutan pelayanan masyarakat.
Adapun kolaborasi menjadi salah satu fondasi penting karena pembangunan desa, menurutnya, tidak mungkin dikerjakan oleh kepala desa seorang diri.
“Desa ini terlalu besar untuk dibangun oleh satu orang. Suwat harus dibangun bersama. Pemerintah, masyarakat, pemuda, tokoh dan seluruh elemen desa harus bergerak bersama,” ujarnya.
Ingin Pemerintah Desa Lebih Dekat dengan Warga
Salah satu perubahan pola kerja yang ditawarkan Nonok adalah menghadirkan pemerintahan desa yang lebih aktif menyambangi masyarakat.
Ia menilai, pelayanan publik tidak seharusnya hanya menunggu warga datang ke kantor desa untuk menyampaikan persoalan. Pemerintah desa justru harus melakukan jemput bola dengan turun langsung ke banjar-banjar dan lingkungan masyarakat.
Menurutnya, pemimpin desa perlu mengetahui kondisi warganya secara langsung, termasuk persoalan ekonomi, sosial maupun kebutuhan pembangunan.
“Pemimpin desa tidak cukup bekerja dari balik meja. Harus jemput bola. Coba jalan atau bersepeda keliling desa, tanya kabar warga, apa persoalan yang mereka hadapi, bagaimana kondisi ekonominya, apa keluh kesahnya. Jangan hanya datang ketika ada kepentingan,” paparnya.
Pola tersebut, kata dia, penting agar kebijakan yang diambil pemerintah desa benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat, bukan hanya berdasarkan asumsi atau laporan administratif.
Berangkat dari Keluarga Petani dan Penjahit
Gagasan Nonok tentang pemerintahan yang dekat dengan masyarakat tidak terlepas dari latar belakang kehidupannya.
Ia tumbuh dari keluarga sederhana. Nonok merupakan putra pasangan Wayan Suama dan Desak Putu Padmi. Sang ayah bekerja sebagai penjahit sekaligus petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sejak kecil, ia mengaku melihat langsung perjuangan orang tuanya dalam menjalani kehidupan. Pengalaman tersebut kemudian membentuk cara pandangnya bahwa kebijakan pemerintah harus memiliki keterkaitan langsung dengan persoalan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Sebelum memutuskan maju dalam Pilkel Suwat, Nonok juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Pemuda Banjar Suwat Kelod dan Ketua Karang Taruna Suwat.
Di luar desa, ia aktif dalam organisasi jurnalis AJI Denpasar serta dipercaya menjadi Ketua Serikat Pekerja Tribun Bali.
Pengalamannya selama sekitar 11 tahun sebagai jurnalis membuat Nonok banyak bersentuhan dengan persoalan masyarakat, pelayanan publik, kebijakan pemerintah dan berbagai dinamika sosial.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal yang ia gunakan dalam menawarkan gagasan kepemimpinan untuk Desa Suwat.
Pariwisata Jadi Salah Satu Penggerak Ekonomi Desa
Selain pembenahan tata kelola pemerintahan, pembangunan ekonomi masyarakat menjadi salah satu perhatian Nonok.
Ia melihat Desa Suwat memiliki potensi yang dapat dikembangkan, termasuk melalui sektor pariwisata. Menurutnya, potensi tersebut harus dikelola secara bersama sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
Nonok menilai, ketika masyarakat sudah memiliki inisiatif dan bergerak secara swadaya mengembangkan potensi wisata, pemerintah desa tidak boleh hanya menjadi penonton.
Pemerintah desa harus hadir memberikan dukungan, mulai dari pembangunan akses, promosi, penguatan kelompok masyarakat hingga membuka jejaring kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah desa harus hadir untuk menyokong masyarakat yang sudah bergerak. Libatkan pemuda, kelompok masyarakat, pelaku usaha dan semua pihak yang memiliki kemampuan. Itulah semangat LAGAS, Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan ekonomi desa akan lebih kuat apabila masyarakat ditempatkan bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama.
Tak Ingin Ada Banjar yang Merasa Dianaktirikan
Persoalan pemerataan pembangunan juga menjadi bagian dari gagasan yang dibawa Nonok.
Ia menegaskan komitmennya terhadap pembangunan dan bantuan yang berkeadilan. Menurutnya, seluruh banjar dan kelompok masyarakat harus mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh perhatian pemerintah desa.
Ketika terdapat wilayah atau kelompok masyarakat yang merasa tertinggal, pemerintah desa harus melakukan evaluasi dan mencari penyebabnya.
“Semua banjar punya posisi yang sama di mata kepala desa. Tidak boleh pilih kasih. Semua harus menjadi anak emas. Tidak boleh ada yang dianggap anak tiri,” tegasnya.
Bagi Nonok, prinsip keadilan tersebut penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa. Pemerataan pembangunan juga diyakini dapat mendorong partisipasi warga karena masyarakat merasa memiliki posisi yang sama dalam proses pembangunan.
LAGAS dan Harapan Membuka Babak Baru
Melalui gerakan LAGAS, Nonok ingin menjadikan pembangunan Desa Suwat sebagai kerja bersama, bukan hanya program pemerintah desa.
Ia menawarkan pola pemerintahan yang membuka ruang partisipasi masyarakat, mengedepankan kolaborasi dan menjadikan aspirasi warga sebagai bagian penting dalam menentukan arah pembangunan.
Menurutnya, desa memiliki sumber daya manusia, potensi ekonomi dan berbagai kekuatan sosial yang dapat digerakkan apabila diberikan ruang yang cukup.
“Desa harus dibangun bersama. Pemerintah membuka ruang, masyarakat menyampaikan kebutuhan, lalu kita bekerja bersama mencari jalan keluarnya. Mari LAGAS, Lan Bangun Suwat Sareng-Sareng,” pungkasnya.
Kontestasi Pilkel Suwat 2026 pun menjadi momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah kepemimpinan desa ke depan. Di tengah pengalaman 14 tahun pemerintahan sebelumnya, tawaran perubahan yang dibawa Nonok menjadi salah satu pilihan bagi warga Suwat dalam menentukan masa depan desanya.
Bagi Nonok, perubahan bukan sekadar pergantian figur, melainkan upaya menghadirkan cara kerja pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat, terbuka terhadap gagasan baru, dan mampu menggerakkan seluruh elemen desa untuk membangun Suwat secara bersama-sama.sr


