Pariwisata

Arma Fest 2026 Jadi Jembatan Regenerasi, Hampir Ribuan Seniman Hidupkan Tradisi Bali

Arma Fest ini merupakan bentuk tanggung jawab Arma di bidang seni dan budaya.

ortibali.id
ortibali.id
Sabtu, 19 September 2026 • 14:26 WITA 5 mnt baca 31
Bagikan:

UBUD, GIANYAR — Arma Fest 2026 kembali digelar di Ubud, Gianyar, Bali, pada 19-20 September 2026. Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, festival ini mengangkat tema “Living Tradition” sebagai upaya menjaga seni dan budaya tetap hidup sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.

Arma Fest tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Festival ini dirancang menjadi ruang bagi budayawan, seniman, komunitas, serta generasi muda untuk bertemu, berinteraksi, dan berkreasi.

Tahun ini, sedikitnya sembilan sekehe baleganjur dari berbagai wilayah di Bali turut ambil bagian dalam lomba baleganjur ngarap. Secara keseluruhan, Arma Fest 2026 melibatkan hampir 1.000 seniman dari berbagai komunitas dan latar belakang seni.

Ketua Yayasan Arma, Agung Yudi, mengatakan penyelenggaraan Arma Fest merupakan bagian dari tanggung jawab Arma di bidang seni dan budaya. Ruang yang dibangun melalui festival tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada para seniman dan budayawan untuk terus berkarya.

Menurut Agung Yudi, Sabtu ( 19/09/26,) ruang kreativitas tersebut juga penting untuk mempertemukan generasi muda dengan generasi sebelumnya. Dengan demikian, proses regenerasi seni dan budaya tidak berhenti pada pewarisan pengetahuan, tetapi juga berkembang melalui interaksi dan kolaborasi.

“Arma Fest ini merupakan bentuk tanggung jawab Arma di bidang seni dan budaya. Kami ingin memberikan ruang dan kesempatan bagi budayawan dan generasi muda untuk berkreativitas, sekaligus menjadi penghubung antara generasi muda dengan generasi seniornya,” ujar Agung Yudi.

Ia mengatakan ruang yang telah tersedia tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pelaku seni. Interaksi antargenerasi dinilai penting agar pengalaman, pengetahuan, serta nilai-nilai budaya dapat terus diteruskan sekaligus mendapatkan bentuk ekspresi baru.

“Ruang ini kami harapkan bisa dimanfaatkan dengan baik. Di sana ada kesempatan untuk bersinergi, antara generasi muda, para seniman, budayawan, dan semua pihak yang memiliki perhatian terhadap seni dan budaya,” katanya.

Lebih jauh, Agung Yudi menegaskan bahwa keberadaan Arma hingga memasuki usia 30 tahun tidak terlepas dari hubungan dan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, Arma menurutnya tidak dapat dipandang sebagai milik satu orang atau kelompok tertentu.

“Arma bukan milik seseorang. Arma menjadi besar karena hubungan dan keterlibatan semuanya. Sampai sekarang Arma sudah berusia 30 tahun, dan itu menjadi kebanggaan bagi kami,” ujarnya.

Menurutnya, perjalanan tersebut juga menjadi tanggung jawab untuk terus menjaga roh atau semangat awal Arma dalam bidang seni dan budaya. Namun, pelestarian tersebut tidak berarti menutup diri dari perubahan zaman.

Justru melalui Arma Fest, nilai-nilai seni dan budaya diupayakan tetap hadir dengan pendekatan yang lebih kekinian, sehingga dapat diterima dan menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda.

“Kami ingin tetap menjaga laras dan roh Arma, bagaimana seni dan budaya tetap ajeg dan lestari, tetapi juga bisa hadir dengan gaya kekinian,” kata Agung Yudi.

Ia menyebut konsep tersebut sebagai bagian dari upaya membangun jembatan rekonstruksi budaya. Tradisi tetap menjadi pijakan, sementara kreativitas generasi baru menjadi bagian dari proses pengembangannya.

“Ini menjadi jembatan untuk rekonstruksi budaya. Budaya harus tetap dipertahankan, tetapi juga harus bisa berdialog dengan perkembangan zaman. Itu menjadi bagian dari visi dan misi Arma,” ujarnya.

Tradisi Tak Sekadar Dipamerkan

General Manager Arma Museum & Resort, Made Suhartana, mengatakan tema “Living Tradition” dipilih sejalan dengan upaya menjadikan budaya sebagai bagian yang hidup dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Suhartana, perkembangan industri pariwisata Bali saat ini semakin kompleks. Karena itu, pengembangan pariwisata tidak cukup hanya berorientasi pada destinasi dan jumlah kunjungan, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan budaya sebagai identitas Bali.

“Arma tetap berusaha melestarikan budaya dengan membuka diri kepada masyarakat. Kami ingin masyarakat bisa berinteraksi dan tertarik dengan budaya,” ujar Suhartana.

Ia menilai budaya tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang dipamerkan kepada wisatawan. Budaya perlu terus dipraktikkan, dikembangkan, dan diberikan ruang untuk berinteraksi dengan kehidupan masyarakat masa kini.

“Perkembangan pariwisata sekarang sangat kompleks. Karena itu, kita tidak hanya bicara tentang destinasi dan jumlah wisatawan, tetapi bagaimana pariwisata tetap memberikan nilai dan menjaga budaya yang menjadi identitas Bali,” katanya.

Suhartana berharap Arma Fest dapat menjadi salah satu pemantik bagi dunia pariwisata Bali untuk semakin mengedepankan konsep pariwisata berbasis budaya.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pelaku swasta, masyarakat, komunitas, dan seniman menjadi penting untuk membangun ekosistem pariwisata yang tidak tercerabut dari akar budaya.

“Ke depan kami berharap Arma Fest bisa mengikutsertakan semua pihak. Pemerintah dan swasta dapat bersinergi dalam pengembangan pariwisata, khususnya pariwisata yang berbasis budaya,” ujarnya.

Sembilan Sekehe Baleganjur, Hampir 1.000 Seniman

Ketua Arma Fest 2026, I Made Sutama, mengatakan salah satu fokus festival tahun ini adalah mempertemukan komunitas pencinta seni, khususnya generasi muda.

Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari festival adalah lomba baleganjur ngarap yang diikuti sembilan sekehe baleganjur dari berbagai wilayah di Bali.

Kegiatan tersebut tidak hanya dikemas sebagai kompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi para peserta untuk menunjukkan proses kreativitas dalam menggarap karya baleganjur.

“Yang ingin kami lakukan adalah mempertemukan semua komunitas pencinta seni dan anak muda. Kami ingin memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi,” ujar Sutama.

Ia mengatakan keterlibatan hampir 1.000 seniman dalam Arma Fest 2026 menunjukkan besarnya ruang kolaborasi yang dibangun dalam festival tersebut.

Selain baleganjur, berbagai karya seni juga dihadirkan untuk dinikmati masyarakat. Salah satunya karya seni Kelingking yang dipamerkan di Museum Arma.

Sutama menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi. Anak muda tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses penciptaan dan pengembangan seni.

“Tradisi jangan sampai berhenti sebagai sesuatu yang hanya kita kenang dari masa lalu. Tradisi harus terus hidup, dan anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk mengembangkan serta mengekspresikannya,” katanya.

Melalui tema “Living Tradition”, Arma Fest 2026 membawa pesan bahwa pelestarian budaya tidak harus berarti mempertahankan tradisi dalam bentuk yang kaku.

Tradisi justru dapat terus hidup ketika diberi ruang untuk berinteraksi dengan masyarakat, bersentuhan dengan kreativitas generasi muda, serta berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, Arma Fest diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang berkelanjutan bagi seniman dan budayawan untuk berkarya sekaligus memperkuat regenerasi.

Pada akhirnya, “Living Tradition” menjadi upaya untuk memastikan seni dan budaya Bali tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan menemukan bentuk ekspresi baru di tengah perkembangan zaman.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan