Budaya

ARMA Museum Rayakan 30 Tahun, Tiga Dekade Menjaga Taksu Bali Lewat Tradisi yang Terus Hidup

Mengusung semangat “A Living Tradition”, perayaan tiga dekade ARMA menjadi refleksi atas perjalanan panjang institusi budaya

ortibali.id
ortibali.id
Rabu, 10 Juni 2026 • 08:39 WITA 4 mnt baca 267
Bagikan:

UBUD, GIANYAR – ortibalo.id, Museum Seni Agung Rai atau ARMA Museum menandai perjalanan bersejarah tiga dekade kiprahnya dalam melestarikan seni dan budaya Bali. Tepat pada 9 Juni 2026, museum yang didirikan oleh budayawan sekaligus kolektor seni Agung Rai ini genap berusia 30 tahun sejak resmi dibuka pada 9 Juni 1996.

Mengusung semangat “A Living Tradition”, perayaan tiga dekade ARMA menjadi refleksi atas perjalanan panjang institusi budaya tersebut yang tidak hanya berfungsi sebagai museum, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi perkembangan seni, tradisi, pendidikan, dan pariwisata budaya di Bali.

Selama 30 tahun terakhir, ARMA telah berkembang menjadi salah satu pusat kebudayaan terkemuka di Pulau Dewata. Keberadaannya tidak hanya menyimpan dan merawat karya seni, tetapi juga menjadi wadah pertemuan berbagai gagasan, kreativitas, serta dialog budaya lintas generasi dan lintas negara.

Pendiri ARMA Museum, Agung Rai, mengatakan museum yang dirintisnya lahir dari keyakinan bahwa seni dan budaya harus tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“ARMA lahir dari keyakinan bahwa seni dan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus hidup, dipelajari, dan dijaga,” ujar Agung Rai saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 ARMA Museum di Ubud, Selasa (9/6/2026).

Perjalanan ARMA sendiri merupakan kisah dedikasi panjang Agung Rai dalam mengumpulkan, merawat, dan memperkenalkan karya seni Bali kepada dunia. Berangkat dari keterbatasan, ia membangun museum yang kini menjadi salah satu ikon seni dan budaya di Gianyar.

Atas pengabdiannya dalam pelestarian seni budaya, pada tahun 2026 Agung Rai menerima penghargaan Parama Satya Budaya dari Pemerintah Kabupaten Gianyar. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam membina, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya Bali.

Koleksi Seni Bernilai Sejarah

Museum ARMA dikenal memiliki koleksi seni yang kaya dan bernilai historis. Koleksinya mencakup karya-karya maestro seni lukis Bali, seniman Indonesia, hingga seniman mancanegara yang pernah tinggal dan berkarya di Bali.

Selain menjadi ruang pamer permanen, ARMA juga aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat. Program-program tersebut meliputi pameran seni rupa, pertunjukan tari dan musik tradisional, lokakarya budaya, residensi seniman, hingga program edukasi bagi generasi muda.

Kehadiran program-program tersebut menjadikan ARMA bukan sekadar tempat menyimpan karya seni, melainkan pusat aktivitas budaya yang terus bergerak dan berkembang mengikuti dinamika zaman.

ARMA Fest Jadi Puncak Perayaan

Dalam rangka memperingati usia ke-30 tahun, ARMA Museum menyiapkan berbagai kegiatan sepanjang tahun 2026. Salah satu agenda utama adalah penyelenggaraan ARMA Fest, festival seni budaya yang akan mencapai puncaknya pada 19–20 September 2026.

Festival tersebut akan menjadi ruang ekspresi bagi para seniman, sanggar seni, dan komunitas budaya untuk menampilkan karya terbaik mereka. Salah satu kegiatan yang dipastikan menjadi daya tarik adalah lomba baleganjur yang melibatkan berbagai kelompok seni tradisional dari Bali.

Tak hanya berfokus pada seni pertunjukan, perayaan tiga dekade ARMA juga diisi berbagai kegiatan sosial dan lingkungan. Di antaranya penanaman pohon dengan konsep Taru Pramana, aksi donor darah, serta persembahyangan bersama sebagai wujud menjaga harmoni hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada para seniman, budayawan, komunitas budaya, serta masyarakat yang telah mendukung perjalanan ARMA selama tiga puluh tahun.

Menjaga Taksu Bali di Era Modern

Direktur Museum ARMA, Agung Yudi, menegaskan bahwa ARMA akan terus memperkuat perannya sebagai ruang budaya yang menjaga identitas dan taksu Bali di tengah derasnya arus modernisasi.

Menurutnya, tantangan dunia budaya saat ini bukan hanya menjaga warisan tradisi, tetapi juga memastikan nilai-nilai budaya tersebut tetap relevan bagi generasi mendatang.

“ARMA terus berupaya menjaga taksu Bali sebagai roh kreativitas sekaligus beradaptasi dengan perkembangan inovasi dan teknologi agar tetap dekat dengan generasi masa depan,” ujarnya.

Memasuki usia 30 tahun, ARMA Museum menegaskan komitmennya untuk terus menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan. Dengan mengusung konsep budaya yang hidup dan terus berkembang, ARMA tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menciptakan ruang bagi lahirnya kreativitas baru yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya Bali.

Perayaan tiga dekade ini menjadi penanda bahwa ARMA Museum tetap berdiri sebagai salah satu benteng pelestarian seni dan budaya Bali yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan