Peristiwa

Gubernur Koster Kebut Penyelesaian Shortcut Singaraja–Mengwitani, Titik 9–10 Resmi Dibangun

Prioritas percepatan pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani

ortibali.id
ortibali.id
Rabu, 07 Januari 2026 • 19:48 WITA 3 mnt baca 449
Bagikan:

BULELENG – ortibali.id, Gubernur Bali Wayan Koster resmi memulai pembangunan lanjutan Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani pada Titik 9 dan 10, ditandai dengan Upacara Adat Ngeruak dan ground breaking di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026).

Pembangunan ini menjadi bagian penting dari upaya berkelanjutan Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah Pusat dalam memperkuat konektivitas Bali Utara–Selatan, meningkatkan keselamatan lalu lintas, serta mendukung kelancaran distribusi logistik dan pariwisata.

Gubernur Koster menegaskan, percepatan pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani menjadi prioritas sejak dirinya kembali dilantik untuk periode kedua pada 20 Februari 2025. Bahkan, hanya beberapa pekan setelah pelantikan, ia langsung berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum untuk memastikan kelanjutan proyek dari Titik 1 hingga Titik 12.

“Shortcut ini kebutuhannya sangat mendesak, baik untuk transportasi penumpang maupun logistik. Karena itu saya minta agar Titik 9 dan 10 segera dilanjutkan, dan sekarang sudah mulai berjalan,” kata Koster.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Bali berperan aktif mengawal proyek, mulai dari proses tender hingga penandatanganan kontrak, termasuk percepatan pembebasan lahan agar pelaksanaan tidak terkendala.

“Bukan untuk mengintervensi, tapi memastikan semua tahapan berjalan tepat waktu. Setelah siap, saya carikan hari baik dan ditetapkan 7 Januari 2026,” ujarnya.

Target Tuntas Hingga Titik 12 Sebelum 2030

Ke depan, Koster mendorong percepatan pembebasan lahan untuk pembangunan Titik 11 dan 12 yang memiliki medan paling berat. Ia menargetkan pembebasan lahan dimulai pada 2026, konstruksi dimulai akhir 2027 atau awal 2028, dan seluruh shortcut tuntas sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 Februari 2030.

“Saya ingin shortcut ini selesai minimal sampai Titik 12 sebelum masa jabatan saya berakhir,” tegasnya.

Infrastruktur Penopang Pariwisata Berkelanjutan

Menurut Koster, penyelesaian infrastruktur ini krusial untuk menjaga keberlanjutan Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Ia menyebut sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen perekonomian Bali.

Pada 2025, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 7,05 juta orang hingga 31 Desember, tertinggi sepanjang sejarah dan melampaui angka sebelum pandemi Covid-19 yang berada di kisaran 6,2 juta wisatawan.

“Kalau ada yang bilang Bali sepi, itu keliru. Bali justru mengalami lonjakan kunjungan yang sangat signifikan,” tegasnya.

Namun, tingginya aktivitas pariwisata juga memunculkan tantangan serius, terutama kemacetan dan persoalan sampah. Menurutnya, persoalan tersebut hanya bisa diatasi melalui pembangunan infrastruktur dan sistem transportasi yang memadai.

“Masalah macet tidak bisa diselesaikan dengan ceramah. Ini soal jalan dan transportasi. Karena itu lima tahun ke depan fokus kita adalah konektivitas Bali Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Tengah,” ujarnya.

Tekankan Kualitas dan Ketepatan Waktu

Dalam kesempatan itu, Koster juga meminta kontraktor dan seluruh pihak yang terlibat bekerja profesional, menjaga mutu, dan menyelesaikan proyek tepat waktu.

“Kualitas harus nomor satu dan waktunya tepat. Jangan kualitas bagus tapi molor. Saya pantau langsung,” katanya.

Risiko Tinggi, Manfaat Signifikan

Sementara itu, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menyampaikan bahwa Kementerian Pekerjaan Umum berkomitmen penuh mendukung pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani.

Untuk Titik 9 dan 10, total panjang pekerjaan mencapai 3,90 kilometer, terdiri atas jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.

Paket 1 memiliki nilai kontrak Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender, mencakup pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer dan tiga jembatan sepanjang 593 meter. Proyek ini dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.

Kondisi eksisting ruas Singaraja–Mengwitani dinilai berisiko tinggi, dengan kelandaian mencapai 27 persen dan angka kecelakaan sekitar 140 kejadian per tahun, termasuk 16 korban meninggal dunia. Melalui perbaikan geometrik jalan, waktu tempuh dipangkas dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit, kelandaian maksimal diturunkan hingga 10 persen, serta emisi karbon kendaraan diperkirakan berkurang sekitar 10 persen.

Hingga kini, Pemerintah Provinsi Bali telah membebaskan 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar. Namun, untuk menuntaskan seluruh ruas Singaraja–Mengwitani masih diperlukan pembangunan lanjutan pada Titik 1–2, Paket 3 Titik 9–10, serta Titik 11–12 dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp512 miliar.

Dengan kolaborasi erat Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Bali, Jalan Shortcut Singaraja–Mengwitani diharapkan menjadi solusi jangka panjang konektivitas Bali Utara–Selatan, sekaligus mendorong pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di Pulau Dewata.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan