Peristiwa

Klungkung Hipnotis Ardha Candra Lewat “Tapuk Apunggul”, Bupati Satria: Barong Bukan Sekadar Tarian, Tapi Warisan Spiritualitas

Dalam konsep Tapuk Apunggul, Barong Ket tidak sekadar "dihidupkan" sebagai sebuah karya seni pertunjukan, tetapi dimuliakan

ortibali.id
ortibali.id
Jumat, 26 Juni 2026 • 14:57 WITA 4 mnt baca 194
Bagikan:

DENPASAR – ortibali.id, Penampilan Duta Kabupaten Klungkung pada ajang Wimbakara (Lomba) Tari Barong Ket dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 sukses memukau ribuan penonton yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar, Kamis (25/6) malam.

Gemuruh tepuk tangan menggema sepanjang pertunjukan. Ribuan pasang mata yang memenuhi tribun bersama para suporter memberikan apresiasi tinggi terhadap penampilan Sanggar Sangku Mas, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan, yang tampil sebagai Duta Kabupaten Klungkung. Penampilan tersebut sekaligus menegaskan reputasi Klungkung sebagai juara bertahan pada ajang Wimbakara Tari Barong Ket.

Dukungan penuh juga ditunjukkan langsung oleh jajaran pimpinan Pemerintah Kabupaten Klungkung. Hadir menyaksikan pertunjukan tersebut Bupati Klungkung I Made Satria bersama Ketua TP PKK Kabupaten Klungkung Ny. Eva Satria, serta Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra.

Kehadiran para pimpinan daerah menjadi suntikan semangat bagi seluruh seniman yang telah menjalani proses latihan panjang demi menampilkan karya terbaik pada panggung seni terbesar di Bali tersebut.

Tahun ini, Klungkung mengangkat konsep pementasan bertajuk "Tapuk Apunggul", sebuah garapan yang tidak hanya mengedepankan keindahan gerak tari, tetapi juga menyuguhkan kedalaman filosofi dan nilai spiritual yang melekat pada Barong Ket dalam tradisi Hindu Bali.

Konsep tersebut berangkat dari pemahaman bahwa Barong Ket merupakan simbol pelindung alam semesta sekaligus penolak bala. Dalam tradisi Bali, Barong juga dikenal sebagai Banaspati Raja yang menjadi bagian dari konsep Kanda Pat Bhuta dan Catur Sanak, dipercaya bersemayam di pepohonan besar seperti pohon beringin, pule, kepah, hingga kepuh.

Selain itu, konsep tersebut juga merujuk pada ajaran Siwa Purana Tatwa yang menyamakan Barong dengan sosok Kirthimukha, makhluk mitologi tanpa badan dengan mulut menganga yang berfungsi menjaga gerbang bangunan-bangunan suci.

Secara etimologis, kata "Tapuk" dimaknai sebagai tapel atau wajah Barong, sedangkan "Apunggul" berasal dari kata punggul atau potong. Filosofi tersebut menggambarkan proses awal pembuatan tapel Barong Ket yang diawali dengan memotong bagian tertentu dari kayu pule sebagai bahan utama.

Potongan kayu pule tersebut kemudian diolah menjadi tapel Barong yang dikenal pula sebagai punggalan. Dari proses inilah lahir makna filosofis bahwa keberadaan Barong tidak hanya dimulai ketika sosoknya selesai diwujudkan, tetapi sejak awal proses pemilihan dan pemotongan kayu yang dilakukan melalui tata cara sakral.

Dalam konsep Tapuk Apunggul, Barong Ket tidak sekadar "dihidupkan" sebagai sebuah karya seni pertunjukan, tetapi dimuliakan sejak asal-usul pembentukannya. Karena itu, sebelum dipentaskan, selalu dilaksanakan rangkaian ritual spiritual berupa nangkilang atau nuwur taksuning swari maring sor ing pule sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber spiritual Barong itu sendiri.

Melalui konsep tersebut, Duta Klungkung ingin menghadirkan pemaknaan yang lebih mendalam bahwa Barong merupakan manifestasi keyakinan yang lahir dari filosofi "Tapaking Tapuk Punggal Apunggul", yakni perpaduan antara proses penciptaan, kesucian, dan kekuatan spiritual.

Usai pertunjukan, Bupati Klungkung I Made Satria menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh seniman Sanggar Sangku Mas yang dinilai telah mempersembahkan penampilan terbaik dengan penuh dedikasi dan totalitas.

Menurutnya, Wimbakara Tari Barong Ket bukan hanya ajang kompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi ruang penting dalam menjaga kelestarian seni, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur Bali.

"Pementasan ini menunjukkan bahwa seni tradisi Bali bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat nilai filosofi dan spiritualitas. Saya bangga atas kerja keras seluruh seniman yang telah mengharumkan nama Klungkung di panggung PKB," ujar Bupati Satria.

Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Klungkung akan terus memberikan dukungan terhadap pelestarian seni dan budaya melalui pembinaan sanggar-sanggar seni, regenerasi seniman muda, serta penyediaan ruang-ruang kreativitas agar warisan budaya Klungkung tetap lestari dan mampu bersaing di tingkat provinsi maupun nasional.

Dengan konsep yang kuat, penggarapan artistik yang matang, serta penyampaian pesan budaya yang mendalam, penampilan Duta Kabupaten Klungkung pada Wimbakara Tari Barong Ket PKB XLVIII Tahun 2026 kembali membuktikan bahwa Klungkung tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga terus menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan akar spiritual yang menjadi ruh kebudayaan Bali.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan