Seni

Pameran Aboetd Art di Batanancak: Ketika Seni Abstrak Menyatu dengan Sakralnya Prosesi Pernikahan Bali

Pameran ini tidak sekadar menampilkan keindahan visual, melainkan menjadi representasi emosi dan kejujuran batin

ortibali.id
ortibali.id
Rabu, 25 Maret 2026 • 16:19 WITA 2 mnt baca 825
Bagikan:

GIANYAR – ortibali.id, Sebuah pameran seni yang tidak biasa hadir di tengah prosesi sakral pernikahan adat Bali di kawasan Batanancak. Melalui karya-karya bertajuk kejujuran dan kesungguhan hati, Aboetd Art menghadirkan ruang dialog antara seni abstrak dan nilai-nilai tradisi yang kental.

Pameran ini tidak sekadar menampilkan keindahan visual, melainkan menjadi representasi emosi dan kejujuran batin. Setiap sapuan warna dan garis tegas dalam lukisan disebut sebagai refleksi detak jantung yang jujur, sekaligus simbol keteguhan dalam memegang janji, baik dalam seni maupun kehidupan.

Dalam konteks pernikahan adat Bali, khususnya prosesi memadik, karya-karya Aboetd Art dimaknai sebagai bentuk “meminang” kebenaran dari dalam diri. Seni diposisikan sebagai medium pengabdian (bhakti), sejajar dengan ritual penyusunan banten yang dilakukan secara bertahap dan penuh ketelitian, Rabu (25/04/26).

“Pameran ini adalah perayaan kejujuran. Dalam seni maupun cinta, hanya mereka yang berani jujur yang mampu menemukan makna kewarasan yang sesungguhnya,” demikian narasi kuratorial yang menyertai pameran tersebut.

Tak hanya menampilkan karya Aboetd Art, pameran ini juga melibatkan sejumlah seniman lain yang memperkaya perspektif. Karya almarhum Weces, misalnya, menghadirkan figur mistis dengan detail ornamentik khas Mas-Ubud yang merepresentasikan perlindungan dan restu leluhur dalam setiap perjalanan hidup, termasuk pernikahan.

Sementara itu, seniman Suarne Nikne menampilkan lukisan bergaya kubisme modern yang menggambarkan kompleksitas jati diri manusia. Karya tersebut menjadi simbol bahwa pernikahan adalah proses menyatukan berbagai fragmen kepribadian menjadi harmoni baru.

Di sisi lain, lukisan karya Giri Natha menghadirkan visual prosesi pembakaran suci sebagai simbol pemurnian diri. Api dalam karya tersebut dimaknai bukan sebagai penghancur, melainkan sebagai elemen yang melebur ego dan masa lalu demi membangun kehidupan baru yang lebih murni.

Menariknya, dalam beberapa karya Aboetd Art juga muncul figur Ganesha yang tersirat di balik komposisi abstrak. Sosok ini dimaknai sebagai simbol kecerdasan spiritual sekaligus penghancur rintangan, yang hadir dalam bentuk lebih ekspresif dan emosional.

Pameran ini juga menjadi ajang kolaborasi lintas generasi dan gaya. Para seniman tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga membangun dialog antara tradisi dan kontemporer, antara estetika klasik dan eksplorasi modern.

Di tengah kemegahan busana adat dan rangkaian prosesi pernikahan, pameran ini mengingatkan pentingnya menjaga keaslian jati diri. Bahwa mencintai dengan sungguh-sungguh, sebagaimana dalam pernikahan, membutuhkan keberanian untuk menjadi diri sendiri secara utuh dan jujur.

Dengan mengusung konsep yang menyatu dengan ritual, kehadiran pameran ini mempertegas bahwa seni bukan sekadar ekspresi visual, melainkan juga bagian dari perjalanan spiritual dan budaya masyarakat Bali.sr



ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan