Hiburan

Parade Ngelawar Se-Bali Angkat Warisan Kuliner “Resep Mustika Rasa” di Gianyar

Di Bali, Lawar menjadi identitas wilayah

Satya Raditya
Satya Raditya
Minggu, 29 Juni 2025 • 14:38 WITA 2 mnt baca 601
Bagikan:

GIANYAR – ortibali.id, Sebanyak 47 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Bali turut ambil bagian dalam Parade Ngelawar Se-Bali bertajuk “Resep Mustika Rasa” yang digelar pada Minggu, 28 Juni 2025 di Wantilan Pura Dalem Guwang, Sukawati, Gianyar. Kegiatan ini menjadi ajang pelestarian kuliner tradisional khas Bali, khususnya lawar, yang merupakan bagian dari identitas budaya umat Hindu di Bali.


Parade ini merupakan inisiatif I Nyoman Parta, dengan target awal hanya 30 peserta. Namun, antusiasme masyarakat sangat tinggi hingga jumlah peserta membengkak menjadi 47 kelompok dari berbagai latar belakang, mulai dari komunitas anak muda, pelaku spiritual, hingga komunitas pengemudi (driver).


“Lawar bukan sekadar makanan, ini adalah simbol kebudayaan dan spiritualitas masyarakat Bali. Setiap daerah punya cerita sendiri dalam membuat lawar,” ujar Nyoman Parta di sela-sela acara.


Dalam parade ini, peserta membawa bahan lawar yang telah disiapkan dari rumah masing-masing dan hanya tinggal diracik di lokasi. Ragam lawar yang ditampilkan sangat beragam, baik dari sisi bahan maupun teknik pengolahan. Di Gianyar misalnya, dikenal dengan lawar flek, yakni lawar berbahan dasar daging babi mentah. Namun ada juga yang menggunakan teknik dibakar setengah matang hingga matang sempurna.


Tak hanya berbahan dasar daging, beberapa lawar juga mengombinasikan bahan-bahan unik seperti buah nangka muda, kelapa muda, bonggol gedebong pisang, daun kendal, hingga buah timbul yang biasanya hanya digunakan untuk sayur berkuah atau gorengan.


Rasa dari lawar-lawar yang disajikan diuji oleh juri profesional, salah satunya Chef Ron, yang dikenal sebagai pakar kuliner tradisional. Penilaian dilakukan berdasarkan cita rasa, penyajian, serta nilai konservasi dan inovasi bahan.


Parade ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan Bulan Bung Karno, dengan mengangkat kembali warisan kuliner nasional dari buku Resep Mustika Rasa, yang merupakan koleksi resep favorit Presiden Soekarno dan referensi kuliner Nusantara.


“Ini adalah bagian dari konservasi budaya, agar anak cucu kita tidak lupa seperti apa lawar Bali sebenarnya. Harapannya, lawar bisa diangkat sebagai kuliner Nusantara yang membanggakan,” tambah Nyoman Parta.


Acara ini disambut antusias oleh masyarakat dan peserta. Selain menjadi ruang kreativitas kuliner, parade ini juga memperkuat jalinan komunitas lintas generasi untuk merawat warisan budaya Bali melalui cita rasa.


sr/id

Satya Raditya
Jurnalis Orti Bali

Satya Raditya

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan