Budaya

Swadharma Orang Tua: Bupati Gianyar I Made Mahayastra Gelar Mepandes untuk Tiga Anak dan Satu Keponakan, Wujud Menuntun Generasi Menuju Kedewasaan

Salah satu tahapan penting dalam rangkaian Manusa Yadnya, yakni upacara penyucian diri yang menandai seseorang memasuki fase kedewasaan

ortibali.id
ortibali.id
Jumat, 24 Juli 2026 • 14:24 WITA 3 mnt baca 191
Bagikan:

GIANYAR – ortibali.id, Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai kepala daerah, Bupati Gianyar I Made Mahayastra menunjukkan komitmennya menjalankan swadharma sebagai orang tua. Bersama sang istri, Ida Ayu Surya Adnyani, Mahayastra menggelar Upacara Mepandes (Metatah/Potong Gigi) bagi tiga putra-putrinya dan satu keponakan di kediaman keluarga di Banjar Melinggih, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Jumat (24/7/2026).

Empat peserta yang menjalani upacara suci tersebut yakni Putu Diah Pradnya Maharani, Bagus Dwi Mahayana Putra, Bagus Trisna Mahananda Putra, serta Gede Tangkas Soranata Yasoda.

Suasana upacara berlangsung khidmat dengan dihadiri keluarga besar, kerabat, tokoh adat, serta undangan dari Puri Sebali. Prosesi dipuput Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran dari Griya Kekeran, Blahbatuh, didampingi sangging, serati, pemangku, dan seluruh unsur pendukung upacara adat.

Bagi umat Hindu di Bali, Mepandes merupakan salah satu tahapan penting dalam rangkaian Manusa Yadnya, yakni upacara penyucian diri yang menandai seseorang memasuki fase kedewasaan. Upacara ini tidak hanya dimaknai sebagai tradisi turun-temurun, tetapi juga menjadi simbol pendidikan moral dan spiritual bagi generasi muda.

Makna utama Mepandes adalah mengendalikan enam musuh dalam diri manusia atau Sad Ripu, yakni kama (nafsu), loba (keserakahan), krodha (amarah), mada (keangkuhan), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati). Melalui prosesi tersebut, diharapkan setiap anak mampu mengendalikan hawa nafsu, membangun karakter yang baik, serta siap memikul tanggung jawab sebagai pribadi yang dewasa.

Bagi keluarga Bupati Gianyar, pelaksanaan Mepandes bukan sekadar memenuhi tradisi adat, melainkan menjadi wujud nyata pelaksanaan swadharma, yakni kewajiban suci orang tua untuk membimbing anak-anaknya sesuai ajaran agama Hindu.

Rangkaian upacara telah dimulai sejak 20 Juli 2026 melalui prosesi nuasen, nanceb, dan ngoreng, kemudian dilanjutkan dengan ngaturang pekeling, mapiuning atau memohon tirta di sejumlah pura, persiapan berbagai sarana upakara, hingga prosesi ngekeb yang dilaksanakan sehari sebelum puncak upacara.

Pada puncak pelaksanaan, Jumat (24/7/2026), prosesi diawali sejak dini hari dengan mendak sangging, dilanjutkan ngendag, prosesi metatah, hingga natab yang dipuput sulinggih. Seluruh tahapan berlangsung sesuai pakem adat dan tata upacara Hindu Bali dengan berbagai jenis banten yang telah dipersiapkan secara lengkap.

Usai prosesi utama, keluarga juga menggelar resepsi selama dua hari, 25–26 Juli 2026, sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan dengan masyarakat, kerabat, dan para undangan. Selanjutnya rangkaian upacara akan ditutup dengan prosesi telu dina pada 27 Juli 2026.

Putri sulung Bupati Gianyar, Putu Diah Pradnya Maharani, mengatakan Mepandes menjadi pengingat penting bagi dirinya untuk memasuki masa remaja dengan lebih dewasa dan mampu mengendalikan diri.

"Pesan yang paling saya ingat dari orang tua adalah ketika memasuki masa remaja kami harus belajar mengurangi sifat-sifat Sad Ripu. Upacara ini bukan hanya seremoni, tetapi menjadi pengingat agar kami menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab," ujarnya.

Anggota DPRD Provinsi Bali tersebut juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada kedua orang tuanya yang telah membimbing dan merawat dirinya hingga dewasa.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu yang telah merawat, mendidik, dan mengantarkan kami hingga menjalani salah satu tahapan penting dalam kehidupan ini. Terima kasih juga kepada seluruh keluarga, krama adat, dan masyarakat yang telah tulus membantu sehingga seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan lancar," katanya.

Pelaksanaan Mepandes di kediaman Bupati Gianyar menjadi potret kuat bahwa nilai-nilai adat, budaya, dan spiritual tetap dijaga di tengah dinamika kehidupan modern. Di balik tugasnya sebagai pemimpin daerah, I Made Mahayastra menunjukkan bahwa tanggung jawab sebagai seorang ayah tetap menjadi prioritas, dengan menuntaskan salah satu kewajiban penting dalam perjalanan hidup putra-putrinya sesuai warisan luhur tradisi Bali.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan