Ekonomi

Cokelat Bali Tembus Pasar Dunia, Pemuda Asal Gianyar Berdayakan 600 Petani Lokal

Baginya, bisnis bukan hanya soal keuntungan

ortibali.id
ortibali.id
Jumat, 15 Agustus 2025 • 20:40 WITA 2 mnt baca 273
Bagikan:

Jakarta, 14 Agustus 2025 – Semangat kemerdekaan tak selalu diukur dari kata-kata, tetapi juga dari aksi nyata membangun kemandirian bangsa. Hal itu dibuktikan oleh Kadek Surya Prasetya Wiguna, pemuda asal Bali yang memilih meninggalkan karier di salah satu perusahaan pelat merah demi mengembangkan potensi kakao lokal melalui CAU Chocolates.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor kakao Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$2,62 miliar, meningkat 118,64 persen dibanding tahun sebelumnya. Kakao kini menjadi komoditas ekspor terbesar keempat sub-sektor perkebunan setelah sawit, karet, dan kelapa.


Kadek melihat peluang besar di balik angka tersebut. Meski Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar dunia, rantai distribusi yang panjang dan minimnya edukasi membuat petani lokal belum sepenuhnya menikmati keuntungan hasil panen. Bersama sang ayah, ia mendirikan CAU Chocolates dengan konsep ekosistem dari hulu ke hilir, mulai pendampingan petani muda, fermentasi, hingga produksi cokelat siap ekspor.


Saat ini, CAU Chocolates telah memberdayakan lebih dari 600 petani di Bali. Produktivitas petani binaannya meningkat signifikan, dari rata-rata nasional 600 kg per hektare menjadi 2 ton per hektare per tahun. CAU Chocolates juga menjadi satu-satunya merek cokelat Indonesia yang mengantongi sertifikasi organik dari Indonesia, Amerika Serikat (USDA), dan Uni Eropa (EU). Atas dedikasinya, Kadek dianugerahi predikat Duta Petani Milenial oleh Kementerian Pertanian RI.


“Bagi kami, bisnis bukan hanya soal keuntungan, tapi gerakan sosial agar petani lokal merdeka secara ekonomi. Kami memangkas rantai distribusi sehingga petani bisa menerima hingga 90 persen dari harga standar kakao dunia, lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 70 persen,” kata Kadek.


Tak hanya fokus produksi, Kadek mengembangkan Desa Cokelat Bali dan Choco Land, agrowisata edukatif yang mengenalkan proses pembuatan cokelat sekaligus budaya pertanian Bali kepada wisatawan.


Dari sisi pemasaran, CAU Chocolates memanfaatkan e-commerce, termasuk Shopee, untuk memperluas pasar. Di paruh pertama 2025, omzetnya tumbuh 365 persen dibanding periode sama tahun lalu. Partisipasi dalam Program Ekspor Shopee berhasil membuka akses pasar ke Malaysia dan Singapura, dengan pertumbuhan ekspor mencapai enam kali lipat.


Tiga produk unggulan ekspor meliputi Organic Raw Cocoa Nib, Organic Sweet Nibs, dan Cokelat Compound. Penjualan bahkan meningkat dua kali lipat setiap kali mengikuti kampanye bulanan seperti tanggal kembar, gajian sale, dan flash sale.


“Shopee bukan hanya memperluas pasar kami, tapi juga ikut mendukung misi sosial memberdayakan petani lokal agar mandiri dan bersaing di pasar dunia,” ujar Kadek.


Perjalanan CAU Chocolates menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan lewat kemandirian ekonomi. Dengan dukungan platform digital, produk lokal tak hanya memperkuat perekonomian nasional, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah global. ( sr/id )




ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan