Budaya

Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan Meriahkan HUT RI ke-81 di Gianyar, 64 Desa Tampilkan Keberagaman Rasa

Ini kita meriahkan dengan melestarikan seni dan budaya kita di Gianyar. Salah satunya ngelawar dan metanding gebogan

ortibali.id
ortibali.id
Kamis, 13 Agustus 2026 • 13:42 WITA 4 mnt baca 199
Bagikan:

GIANYAR – ortibali.id, Perayaan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Gianyar dikemas dengan nuansa seni dan budaya Bali. Salah satunya melalui Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan yang digelar Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Gianyar di Wantilan Pura Samuantiga, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi rangkaian perayaan hari jadi dan kemerdekaan. Parade ini juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi dan budaya Bali yang masih hidup di tengah masyarakat.

Sebanyak 64 perbekel dan 64 ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dari tujuh kecamatan se-Kabupaten Gianyar ambil bagian dalam Parade Ngelawar.

Sementara itu, kegiatan Metanding Gebogan diikuti para ibu camat bersama 64 ibu perbekel. Para camat juga turut bergabung dan memeriahkan rangkaian kegiatan tersebut.

Kepala Dinas PMD Gianyar, Gede Daging, mengatakan Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan menjadi salah satu bentuk perayaan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan mengangkat kekayaan seni serta budaya lokal.

“Ini kita meriahkan dengan melestarikan seni dan budaya kita di Gianyar. Salah satunya ngelawar dan metanding gebogan,” ujar Gede Daging.

Menurutnya, tradisi ngelawar memiliki keunikan tersendiri karena setiap wilayah di Gianyar mempunyai karakteristik dan cita rasa yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi kekayaan budaya yang harus dijaga.

Gede Daging menyebut cita rasa lawar dari satu kecamatan tidak akan sepenuhnya sama dengan kecamatan lainnya. Karakteristik tersebut menjadi gambaran keberagaman masyarakat Gianyar.

“Payangan seperti apa, Tegallalang seperti apa, pasti berbeda. Tidak mungkin sama. Ini merupakan keanekaragaman yang perlu kita jaga, lestarikan dan terus berkelanjutan,” katanya.

Lawar Jadi Simbol Kebersamaan

Bupati Gianyar, Made Agus Mahayastra, mengapresiasi pelaksanaan Parade Ngelawar yang mempertemukan para perbekel, ketua BPD, camat dan unsur masyarakat dalam suasana kebersamaan.

Menurut Agus Mahayastra, lawar bukan hanya makanan tradisional Bali. Di dalam proses pembuatannya terdapat filosofi tentang keberagaman, keseimbangan dan kebersamaan.

“Lawar memiliki makna kebersamaan, keragaman. Kalau salah satu mendominasi, rasanya tidak akan enak,” ujar Agus Mahayastra.

Ia kemudian mengibaratkan kehidupan bermasyarakat seperti racikan lawar. Setiap bahan memiliki peran dan rasa masing-masing. Jika salah satu unsur terlalu dominan, cita rasa keseluruhan justru menjadi tidak seimbang.

“Yang enak adalah bagaimana mereka bercampur, bersatu padu, membuat rasa yang enak. Itulah lawar, itulah rasa kebersamaan kita di Gianyar,” katanya.

Filosofi tersebut, menurut Agus, relevan dengan kehidupan sosial masyarakat. Garam yang terlalu banyak akan membuat makanan menjadi asin, sementara cabai yang terlalu dominan akan membuat rasa menjadi terlalu pedas.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap orang memiliki peran dan kemampuan masing-masing, namun semuanya perlu saling melengkapi agar tercipta kehidupan sosial yang harmonis.

Tradisi Ngelawar Melekat dengan Kehidupan Masyarakat Gianyar

Agus menambahkan, tradisi ngelawar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gianyar.

Lawar hampir selalu hadir dalam berbagai kegiatan adat, piodalan maupun acara keluarga. Proses pembuatannya pun kerap dilakukan secara bersama-sama sehingga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi dan mempererat hubungan sosial.

Menurutnya, tradisi seperti ngelawar juga mengajarkan masyarakat untuk tidak hanya menjadi penonton ketika berada di tengah lingkungan adat maupun banjar.

Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuan yang dimiliki.

“Kalau hadir di tengah-tengah masyarakat, apakah kita bengong? Malu dong kita bengong. Minimal bisa berbaur. Entah kalau tidak bisa dalam hal A, di hal B kita bisa,” ujar Agus.

Melalui Parade Ngelawar dan Metanding Gebogan, Pemkab Gianyar ingin memastikan tradisi tersebut tetap hidup dan tidak berhenti sebagai warisan masa lalu.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat gotong royong dan kebersamaan antarpemerintahan desa serta masyarakat, sembari merayakan HUT ke-68 Provinsi Bali dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan identitas budaya Bali.

Bagi Gianyar, keberagaman cita rasa lawar menjadi gambaran bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipadukan. Seperti halnya lawar, rasa kebersamaan akan semakin kuat ketika setiap unsur mampu mengambil peran dan saling melengkapi.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan