Seni

Tanda Tangan Disulap Jadi Karya Seni, Aksi Aboetd Art Sulap Ferry Gilimanuk-Ketapang Jadi Galeri Berjalan

Semua berkumpul, tertawa, dan menikmati karya seni bersama. Suasananya jadi hangat

ortibali.id
ortibali.id
Senin, 13 April 2026 • 15:06 WITA 3 mnt baca 1,528
Bagikan:

Jembrana – Suasana penyeberangan dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang yang biasanya identik dengan perjalanan rutin dan hiruk pikuk penumpang, mendadak berubah menjadi panggung seni yang memikat. Di atas geladak kapal ferry yang membelah Selat Bali, seniman Aboetd Art menghadirkan pertunjukan kreatif bertajuk Melukis Tanda Tangan, menjadikan ruang publik sebagai galeri berjalan yang sarat makna.

Aksi seni tersebut berlangsung di tengah perjalanan spiritual Tirta Yatra menuju sejumlah titik suci di tanah Jawa, di antaranya Pura Luhur Giri Salaka di kawasan Alas Purwo serta Pura Jati Luhur Purwoharjo. Jika biasanya perjalanan ini dimaknai sebagai momen hening untuk berdoa dan memohon berkah, kali ini suasana terasa lebih hidup dengan sentuhan seni yang mengundang perhatian para penumpang.

Sejak kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga, sejumlah penumpang tampak berkumpul di sekitar Aboetd Art yang menyiapkan alat gambar sederhana. Tak butuh panggung besar ataupun dekorasi mewah, hanya selembar kertas putih, spidol, dan antusiasme para penumpang yang penasaran.

Dengan konsep yang sederhana namun unik, para penumpang diajak menorehkan tanda tangan mereka di atas kertas. Simbol identitas yang lazim digunakan untuk keperluan administrasi itu kemudian diolah langsung menjadi karya visual bernilai estetika tinggi.

Tanpa menghapus bentuk asli tanda tangan, setiap garis, lekukan, dan goresan tinta direspons dengan imajinasi kreatif. Dalam hitungan menit, tanda tangan yang semula tampak biasa berubah menjadi lukisan figuratif maupun abstrak yang penuh ekspresi.

Beberapa karya menampilkan bentuk wajah, hewan, tokoh imajinatif, hingga komposisi garis artistik yang unik. Spontan, penumpang yang menyaksikan memberikan tepuk tangan dan mengabadikan momen tersebut melalui ponsel mereka.

“Banyak orang menganggap tanda tangan hanya sekadar identitas formal. Padahal, di dalam setiap garis itu ada karakter, energi, dan cerita pemiliknya. Saya mencoba menerjemahkan itu menjadi karya seni,” ujar Aboetd Art di sela pertunjukan.

Ia mengatakan, ide melukis dari tanda tangan lahir dari keinginannya menghadirkan seni yang dekat dengan masyarakat. Menurutnya, seni tidak harus selalu hadir di galeri atau ruang pameran resmi, tetapi bisa tumbuh di mana saja selama ada ruang interaksi.

“Bagi saya, pameran tidak mengenal batas ruang maupun waktu. Kapal ferry, pasar, jalanan, atau tempat ibadah pun bisa menjadi ruang apresiasi. Seni harus hadir di tengah kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kehadiran pertunjukan spontan tersebut menjadi hiburan tak biasa bagi para penumpang yang tengah menempuh perjalanan laut. Banyak di antara mereka menghentikan sejenak aktivitas bermain gawai untuk menyaksikan proses kreatif yang berlangsung langsung di depan mata.

Salah seorang penumpang, Made Suryana, mengaku terkesan dengan aksi tersebut. Ia tidak menyangka perjalanan penyeberangan yang biasanya terasa biasa saja berubah menjadi pengalaman berbeda.

“Saya sering naik ferry ke Jawa, tapi baru kali ini melihat pertunjukan seperti ini. Menarik sekali, karena dari tanda tangan saja bisa jadi gambar yang indah. Perjalanan jadi tidak terasa membosankan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan penumpang lainnya, Ni Luh Arianti. Menurutnya, pertunjukan itu memberikan energi positif di tengah perjalanan.

“Biasanya orang sibuk sendiri dengan ponsel masing-masing. Kali ini semua berkumpul, tertawa, dan menikmati karya seni bersama. Suasananya jadi hangat,” katanya.

Aksi ini sekaligus menjadi pesan bahwa ruang transit yang selama ini dipandang sekadar tempat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain, sesungguhnya bisa disulap menjadi ruang apresiasi dan kontemplasi yang hidup.

Di tengah riuh mesin kapal, suara ombak, dan lalu lalang penumpang, seni hadir sebagai pengingat bahwa keindahan dapat ditemukan di perjalanan paling sederhana sekalipun.

Melalui karya-karyanya, Aboetd Art membuktikan bahwa sesuatu yang sederhana seperti tanda tangan dapat bermetamorfosis menjadi mahakarya yang menyentuh hati. Dari geladak ferry Gilimanuk-Ketapang, pesan itu mengalir menyeberangi Selat Bali: bahwa kreativitas tak pernah mengenal batas.sr

ortibali.id
Jurnalis Orti Bali

ortibali.id

Menyajikan liputan mendalam, faktual, dan aktual seputar dinamika kehidupan dan budaya Bali.

Lihat Semua Tulisan