Denpasar –ortibali.id, Sastrawan Indonesia Oka Rusmini kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Kembang yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2026. Buku puisi ini menjadi penanda perjalanan estetik terbaru Oka, yang kali ini mengangkat pengalaman perempuan penyintas tragedi 1965 melalui pendekatan puitis yang intim dan reflektif.
Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang banyak menyoroti kritik terhadap adat dan budaya patriarki secara terbuka, Kembang memilih jalur yang lebih sunyi. Oka menghadirkan fragmen kehidupan sehari-hari dua perempuan penyintas 1965, Kaminah dan Kusdalini, sebagai ruang untuk merekam ingatan yang selama ini terpinggirkan dari sejarah resmi.
Editor Senior Gramedia Pustaka Utama, Mirna Yulistianti, menilai Kembang sebagai karya yang memiliki konstruksi bahasa sangat matang. Menurutnya, Oka menyusun setiap puisi dengan presisi tinggi sehingga setiap kata memiliki fungsi membangun makna sekaligus menghadirkan ruang refleksi bagi pembaca.
Proses kreatif buku ini lahir dari perjumpaan Oka dengan film dokumenter You and I karya Fanny Chotimah yang merekam kehidupan Kusdalini dan Kaminah, dua perempuan penyintas tragedi 1965 di Solo. Inspirasi tersebut diperkaya dengan berbagai referensi, termasuk dokumenter A Secret Love, buku foto Pemenang Kehidupan, serta sejumlah literatur akademik mengenai sejarah dan pengalaman perempuan.
Oka mengungkapkan, penulisan Kembang bukan semata-mata proses estetika, melainkan perjalanan batin yang menguras emosi. Ia berupaya menyatukan simbol-simbol kehidupan sehari-hari seperti param, kerupuk, soto, usia senja, hingga tubuh yang rapuh dengan jejak kekerasan sejarah yang dialami para penyintas.



Dalam buku ini, Oka memperkenalkan pendekatan yang ia sebut sebagai "Mistisisme-Domestik", yakni perpaduan antara bahasa yang sarat nuansa magis dengan realitas domestik yang sederhana namun menyimpan luka mendalam. Bunga-bunga seperti kenanga, melati, dan mawar dipertemukan dengan citraan darah, kesepian, aroma makanan rumahan, hingga tubuh yang menua sebagai simbol ketangguhan perempuan menghadapi sejarah.
Pilihan menggunakan huruf kecil (all-lowercase) di seluruh buku juga menjadi strategi estetik untuk menghadirkan aliran kesadaran yang lebih jujur dan egaliter. Melalui pendekatan tersebut, tubuh perempuan tidak hanya menjadi objek cerita, tetapi juga ruang penyimpanan memori kolektif yang selama ini nyaris hilang dari narasi sejarah.
Judul Kembang sendiri dipilih sebagai metafora yang sarat makna. Bunga yang identik dengan kelembutan justru dihadirkan sebagai simbol daya tahan perempuan yang tetap mampu tumbuh di tengah trauma, stigma, dan penghapusan identitas.
Melalui karya ini, Oka Rusmini berupaya mengembalikan ruang bagi suara-suara perempuan yang selama puluhan tahun terpinggirkan. Kembang tidak hanya menjadi kumpulan puisi, tetapi juga monumen sastra yang mengajak pembaca merefleksikan kembali kemanusiaan, ingatan, dan pentingnya merawat sejarah dari perspektif mereka yang selama ini jarang terdengar.
Oka Rusmini dikenal sebagai salah satu penulis Indonesia yang konsisten mengangkat isu perempuan, budaya, dan ketimpangan sosial. Sejumlah karyanya, seperti Tarian Bumi, Tempurung, Kenanga, hingga Jerum, telah memperoleh berbagai penghargaan nasional maupun internasional. Kehadiran Kembang menambah daftar karya penting yang memperkuat posisinya sebagai salah satu suara sastra perempuan paling berpengaruh di Indonesia.