DENPASAR, Bali – ortibali.id, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 kembali digelar sebagai perhelatan seni dan budaya terbesar di Pulau Dewata. Mengusung tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” yang bermakna Memuliakan Jiwa Paripurna, festival budaya tahunan ini akan berlangsung selama hampir satu bulan, mulai 13 Juni hingga 11 Juli 2026, dengan melibatkan lebih dari 20 ribu seniman dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga komunitas budaya mancanegara.
PKB yang telah menjadi ikon pelestarian dan pengembangan budaya Bali sejak pertama kali diselenggarakan pada 1979 ini kembali hadir sebagai ruang ekspresi kreatif sekaligus wadah penguatan identitas budaya di tengah arus globalisasi dan perkembangan zaman.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa penyelenggaraan PKB merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga keberlanjutan adat, tradisi, seni, dan budaya Bali sebagai fondasi kehidupan masyarakat.
Menurutnya, PKB bukan sekadar festival hiburan, melainkan bagian dari strategi pembangunan kebudayaan yang berkelanjutan. Melalui berbagai pertunjukan seni, pameran, hingga forum diskusi budaya, masyarakat diajak untuk memahami kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur Bali.
“Tema Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha mengandung makna mendalam tentang pentingnya penyucian dan pemuliaan jiwa manusia. Seni dan budaya menjadi media untuk membangun karakter, memperkuat spiritualitas, sekaligus menjaga keseimbangan kehidupan,” ujarnya.
Ribuan Seniman Tampil dalam Beragam Agenda Budaya
Selama penyelenggaraan PKB XLVIII, masyarakat akan disuguhkan berbagai kegiatan seni dan budaya yang melibatkan ribuan pelaku seni dari seluruh kabupaten/kota di Bali. Beragam agenda telah disiapkan untuk menampilkan kekayaan budaya Bali yang terus berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi Peed Aya (Pawai Budaya), Rekasadana (Pergelaran Seni), Kandarupa (Pameran), Utsawa (Parade), Kriyaloka (Lokakarya), Wimbakara (Lomba), Widyatula (Sarasehan), hingga Bali World Culture Celebration yang menghadirkan pertukaran budaya antarnegara, termasuk Legenda Arja Lawas Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar juga akan meramaikan agenda PKB 2026 pada 14 Juni Mendatang.



Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Para seniman, akademisi, budayawan, hingga masyarakat umum akan terlibat aktif dalam berbagai forum yang membahas perkembangan seni dan kebudayaan Bali dalam konteks global.
Peed Aya Jadi Magnet Pembukaan
Pembukaan PKB XLVIII dijadwalkan berlangsung pada 13 Juni 2026 dengan agenda utama Peed Aya, pawai budaya yang setiap tahun menjadi salah satu atraksi paling dinantikan masyarakat dan wisatawan.
Dalam pawai tersebut, seluruh kabupaten dan kota di Bali akan menampilkan garapan seni terbaik yang merepresentasikan kekayaan tradisi, kreativitas, serta karakter budaya masing-masing daerah. Berbagai bentuk seni pertunjukan, kostum tradisional, tabuh, tari, hingga karya inovatif berbasis budaya dipastikan akan memadati jalur pawai.
Sejumlah peserta bahkan telah melakukan persiapan intensif selama berbulan-bulan untuk menghadirkan penampilan yang mampu memukau ribuan penonton yang diperkirakan memadati lokasi pembukaan.
Perkuat Posisi Bali sebagai Pusat Kebudayaan Dunia
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, PKB juga memiliki dampak strategis terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Setiap tahun, perhelatan ini mampu menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung kekayaan seni budaya Bali.
Kehadiran delegasi budaya dari berbagai negara melalui program Bali World Culture Celebration juga memperkuat posisi Bali sebagai pusat pertemuan budaya dunia. Pertukaran seni dan budaya yang terjadi dalam ajang tersebut diharapkan mampu memperluas jejaring kerja sama internasional sekaligus memperkenalkan nilai-nilai budaya Bali ke panggung global.
Memasuki penyelenggaraan ke-48, PKB terus menunjukkan eksistensinya sebagai ruang pelestarian budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui tema “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”, festival ini diharapkan tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga menjadi sarana refleksi bersama untuk memuliakan nilai-nilai kehidupan, memperkuat jati diri budaya Bali, serta menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.sr